Strategi Besar dengan 4 Manuver INET di Balik Ledakan Harga Sahamnya

Strategi Besar dengan 4 Manuver INET di Balik Ledakan Harga Sahamnya

Ketika sebagian besar saham mid-cap cuma bergerak tipis-tipis, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) justru bikin kejutan besar. Sepanjang tahun ini, harga sahamnya sudah melonjak 779,31% YTD, lengkap dengan volume transaksi yang meledak. Wajar kalau banyak investor langsung pasang radar: ada apa di balik “roket” INET?

Ternyata, lonjakan ini bukan sekadar euforia pasar. INET sedang menyusun transformasi besar-besaran — dari ekspansi jaringan, akuisisi strategis, sampai pendanaan jumbo yang nilainya bahkan lebih besar dari market cap mereka sendiri. Semua ini dirangkai dalam sebuah blueprint ambisius untuk merebut pangsa pasar broadband Indonesia.

Nah Bos, berikut adalah 4 manuver paling mengejutkan yang bikin INET layak banget dipantau.

1. Rights Issue Raksasa Rp3,2 Triliun — Taruhan “Go Big or Go Home”

Ini motor utama dari seluruh rencana besar INET. Perusahaan bakal menerbitkan 12,8 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp250 per lembar untuk menghimpun dana hingga Rp3,2 triliun. Nilainya bahkan melebihi kapitalisasi pasar INET saat pengumuman — super jumbo!

Ke mana duit sebesar itu akan diarahkan?

🔌 Proyek FTTH 2 Juta Homepass (Rp2,8 Triliun)

Dana paling besar disuntikkan ke anak usaha PT Global Prima Integrasi (GPI) untuk membangun jaringan Fiber To The Home (FTTH) di Bali dan Lombok. Targetnya fantastis: 2 juta homepass sebelum akhir 2026, lengkap menggunakan teknologi Wi-Fi 7, jauh di atas standar industri.

🌊 Backbone Kabel Laut Jakarta–Batam–Singapura (Rp213,4 Miliar)

Melalui PT Pusat Fiber Indonesia (PFI), INET juga mengamankan akses jangka panjang kabel bawah laut internasional (Indefeasible Right of Use). Ini penting banget buat meningkatkan kualitas dan stabilitas bandwidth internasional.

🏡 Internet Murah untuk Jawa (Rp135 Miliar)

PT Internet Anak Bangsa (IAB) bakal fokus pada program internet murah. CEO INET bahkan bilang ini bukan sekadar bisnis, tapi juga misi sosial.

Dengan skala sebesar ini, jelas INET bukan cuma mau ikut main — mereka mau ngegas jadi pemain dominan.

2. Laba Meroket 666% — Pondasi Ekspansi yang Mulai Terlihat

Ekspansi besar butuh kredibilitas besar. Dan INET sudah kasih buktinya.

  • Laba bersih naik 666,65% YoY menjadi Rp7,77 miliar.
  • Pendapatan ikut melesat 196,91% YoY menjadi Rp45 miliar.

Untuk perusahaan yang sedang “scale up”, pertumbuhan ini jadi sinyal bahwa manajemen mampu mengeksekusi rencananya, nggak cuma jual mimpi.

3. Akuisisi PADA & THC — Gerakan Tak Terduga yang Ternyata Kunci

Walaupun fokus utama INET adalah infrastruktur fiber optik, mereka justru mengakuisisi perusahaan outsourcing, PT Personel Alih Daya Tbk (PADA), sebesar 53,57%.

Kenapa ini penting?

Karena ekspansi FTTH sebesar itu butuh ribuan tenaga teknis. Dengan mengendalikan PADA, INET bisa:

  • mengamankan pasokan SDM,
  • mengurangi outsourcing eksternal,
  • dan menekan biaya operasional jangka panjang.

Selain itu, INET juga masuk ke Trans Hybrid Communication (THC), pemilik backbone strategis di Kalimantan Barat dengan koneksi internasional ke Malaysia, Singapura, Brunei, dan Hong Kong. Aset backbone THC akan mempercepat ekspansi jaringan INET dan menambah kemampuan cloud & konektivitas mereka.

Gerakan yang awalnya terlihat “nggak nyambung”, ternyata jadi puzzle penting untuk efisiensi.

4. Komitmen Pengendali Senilai Rp3,2 Triliun — Jaminan Rights Issue Berhasil

Rights issue sebesar ini pasti membawa risiko tidak terserap pasar. Tapi INET punya tameng super kuat.

Pemegang saham pengendali, PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara (AKUN), sudah menyatakan:

  • menyerap seluruh haknya sendiri (Rp1,78 triliun)
  • plus siap menjadi standby buyer hingga Rp1,41 triliun

Alias kalau pasar tidak ambil, mereka ambil semua.

Ini bentuk kepercayaan pengendali yang jarang banget terjadi, dan jadi penegas bahwa mereka benar-benar percaya pada transformasi jangka panjang INET.

Prospek Jangka Panjang INET: Bisa “Lepas Landas” atau Justru Kelewat Ambisius?

Dari semua manuver ini, ada tiga poin penting yang bisa jadi game changer untuk prospek INET:

🔹 1. Proyeksi Kinerja Melonjak Drastis

Analis memproyeksikan:

  • Pendapatan naik dari Rp123,2 miliar (2025E) → Rp916,2 miliar (2026F)
  • Laba bersih dari Rp13,9 miliar → Rp281,7 miliar (2026F)
  • NPM meningkat dari 11,3% → 30,7%

Kalau tercapai, INET bakal naik kelas jadi pemain nasional yang benar-benar diperhitungkan.

🔹 2. Pasar Broadband Indonesia Masih Low Penetration

Penetrasi fixed broadband Indonesia baru 15% rumah tangga, jauh di bawah rata-rata ASEAN di 53%. Artinya, ruang pertumbuhannya masih super besar.

🔹 3. Risiko Besar Tetap Mengintai

  • Eksekusi proyek sangat padat (2 juta homepass dalam 24 bulan).
  • Risiko integrasi dari berbagai akuisisi.
  • Dilusi hingga 57% bagi yang tidak ikut rights issue.
  • Volatilitas saham tinggi, lebih cocok buat trader agresif.

Transformasi INET ibarat sebuah roket: bahan bakarnya ada (dana rights issue), landasannya sudah dibangun (FTTH, IRU, backbone THC), kru teknis sudah siap (PADA). Tinggal satu: apakah roket ini benar-benar bisa melesat sesuai jadwal.

Kesimpulan: INET Sedang Menyiapkan “Lompatan Besar”

Keempat manuver strategis INET menunjukkan satu hal: perusahaan ini lagi mempersiapkan diri untuk melakukan lompatan besar di industri telekomunikasi digital Indonesia.

Mereka nggak cuma memperbesar aset, tapi juga:

  • mengunci pendanaan,
  • membangun fondasi operasional,
  • memperluas backbone,
  • dan memperkuat posisi jangka panjang.

Hasil akhirnya akan bergantung pada satu hal: eksekusi.

Kalau berhasil, INET bisa berubah dari pemain kecil jadi kekuatan besar baru di infrastruktur digital Indonesia. Tapi kalau gagal? Biaya dan risikonya juga jumbo.

Previous Post