Analisis saham pada dasarnya adalah analisis data. Data yang dimaksud meliputi harga pembukaan (open), penutupan (close), harga tertinggi (high), harga terendah (low), volume transaksi, serta waktu.
Dalam analisis teknikal, data yang paling sering digunakan adalah data historis harga terutama open, high, low, dan close (OHLC). Data ini biasanya disajikan dalam bentuk chart atau grafik, agar pergerakan harga bisa dilihat secara visual dan lebih mudah dipahami. Dari data OHLC inilah kemudian dihitung berbagai indikator teknikal seperti moving average, RSI, MACD, support–resistance, Bollinger Band, dan indikator lainnya untuk membantu memprediksi arah pergerakan harga saham ke depan.

Analisis Saham dengan Metode Sahamsheet
Pada metode Sahamsheet, kita menggunakan tabel sebagai alat utama analisis sebelum melihat chart secara lebih detail. Pendekatan ini memungkinkan kita menganalisis banyak saham sekaligus, sesuatu yang sulit dilakukan jika hanya mengandalkan grafik satu per satu.
Google Sheet memberikan ruang untuk menampilkan data saham dalam bentuk tabel yang terstruktur. Dengan tabel, kamu belajar membaca pergerakan harga secara lebih logis: apakah harga sedang naik, turun, bergerak konsisten, atau mulai melemah. Semua itu bisa terlihat jelas—asal kamu tahu cara menyusun dan membacanya.
Mengenal Fungsi GOOGLEFINANCE
GOOGLEFINANCE adalah fungsi bawaan Google Sheet yang digunakan untuk mengambil data pasar keuangan secara otomatis. Dengan fungsi ini, kamu bisa mendapatkan data seperti harga saham terkini, data historis, harga open, high, low, close, hingga volume transaksi.
Data-data tersebut kemudian bisa diolah lebih lanjut untuk menghitung berbagai indikator teknikal yang membantu pengambilan keputusan dalam trading saham.
1. Sintaks Dasar GOOGLEFINANCE
Sintaks umum dari fungsi GOOGLEFINANCE adalah:
=GOOGLEFINANCE(ticker, [attribute], [start_date], [end_date|num_days], [interval])
=GOOGLEFINANCE(ticker, [attribute], [start_date], [end_date|num_days], [interval])
Parameter ticker bersifat wajib. Untuk saham Indonesia, ticker harus diawali dengan prefiks "IDX:" dan diikuti oleh 4 huruf kode saham. Parameter lainnya bersifat opsional. Jika tidak diisi, Google Sheet akan menampilkan harga terakhir saham tersebut.
Contoh:
=GOOGLEFINANCE("IDX:BBCA") |---> manampilkan harga terakhir saham BBCA
Atribut Data yang Bisa Digunakan
Selain harga terakhir, kamu juga bisa menampilkan data lain dengan menambahkan attribute setelah ticker. Beberapa atribut penting yang sering digunakan antara lain:
"price"→ harga terakhir"open"→ harga pembukaan"high"→ harga tertinggi"low"→ harga terendah"close"→ harga penutupan"volume"→ volume transaksi
Contoh penggunaan:
=GOOGLEFINANCE("IDX:BBCA","HIGH") |---> Untuk menampilkan harga tertinggi.
=GOOGLEFINANCE("IDX:BBCA","VOLUME") |---> Untuk menampilkan volume transaksi.
2. Menampilkan Data Historis Saham
Untuk menampilkan data historis saham dalam bentuk tabel, fungsi GOOGLEFINANCE perlu ditambahkan parameter start_date dan end_date. Hasilnya akan berupa tabel yang berisi kolom tanggal dan data sesuai atribut yang dipilih.
Contoh, jika kamu ingin mengambil data harga penutupan (close) dari awal tahun 2025 sampai hari ini:
=GOOGLEFINANCE("IDX:BBCA","close",DATE(2025,1,1),TODAY())
Hasil dari formula ini adalah array data yang terdiri dari tanggal dan harga penutupan saham BBCA dalam rentang waktu tersebut.
Data historis inilah yang menjadi fondasi utama untuk menghitung indikator teknikal seperti moving average, RSI, MACD, support–resistance, dan indikator lainnya yang akan dibahas lebih lanjut di artikel berikutnya.
3. Timeframe Data Historis
Jika pada formula data historis tidak ditambahkan keterangan interval, maka secara default data yang ditampilkan menggunakan timeframe harian (daily). Kamu juga bisa menuliskannya secara eksplisit dengan opsi "DAILY".
Selain daily, GOOGLEFINANCE juga mendukung timeframe mingguan (weekly) dengan menambahkan parameter "WEEKLY".
Contoh:
=GOOGLEFINANCE("IDX:BBCA","close",DATE(2025,1,1),TODAY()) |---> menampilkan data timeframe daily
=GOOGLEFINANCE("IDX:BBCA","close",DATE(2025,1,1),TODAY(),"DAILY") |---> menampilkan data timeframe daily
=GOOGLEFINANCE("IDX:BBCA","close",DATE(2025,1,1),TODAY(),"WEEKLY") |---> menampilkan data timeframe weekly
Perlu dicatat bahwa GOOGLEFINANCE hanya mendukung data historis daily dan weekly. Data dengan timeframe lebih kecil seperti hourly atau minute tidak tersedia. Oleh karena itu, metode analisis menggunakan tabel Sahamsheet kurang cocok untuk trading jangka pendek atau scalping, dan lebih ideal untuk trading jangka menengah hingga panjang.
Catatan Penting Tentang Data GOOGLEFINANCE
Data yang ditampilkan oleh fungsi GOOGLEFINANCE memiliki delay sekitar maksimal 20 menit, sebagaimana tercantum pada disclaimer yang muncul di Google Sheet.
Selain itu, pada disclaimer juga dijelaskan bahwa data tersebut hanya sekedar informasi, bukan untuk tujuan perdagangan atau saran. Namun, data ini tetap sangat bermanfaat karena bisa kita olah menjadi indikator teknikal yang membantu memunculkan sinyal trading berdasarkan prinsip analisis teknikal.
Pada artikel selanjutnya, kita akan mulai mengolah data historis saham ini menjadi indikator teknikal seperti moving average, RSI, MACD, Bollinger Band, dan indikator lainnya menggunakan Google Sheet.
